Rabu, 13 Oktober 2010

Bisnis Ikat Pinggang

Bisnis Ikat pinggang, 
salah satu aksesori yang nyaris tidak pernah sepi permintaan. Terutama, untuk kaum wanita. Mereka kini cenderung memilih ikat pinggang yang terbuat dari bahan baku alami seperti, ikat pinggang dari batok kelapa.
Aksesori ini tetap memiliki peluang tinggi. Terbukti permintaannya, baik di pasar dalam maupun luar negeri tetap ramai.
‘’Aksesori ikat pinggang dari batok kelapa nyaris tidak pernah sepi peminat. Untuk ekspor saja rata-rata di atas 3.000 pcs per bulan, dengan tujuan paling banyak ke negara Eropa.
Aneka kerajinan seni yang dibuat dari bahan baku batok kelapa, sampai saat ini permintaannya masih ramai di pasar mancanegara.
Beberapa negara di Uni Eropa seperti Inggris tercatat sebagai negara pengimpor paling banyak untuk mata dagangan kerajinan tersebut. Kondisi ini membuat perolehan devisa dari produk kerajinan seni lumayan besar.
‘’Aneka kerajinan dari batok kelapa seperti perabotan rumah tangga dan aksesoris, permintaannya selama ini lumayan ramai. Pengiriman paling banyak ke negara Uni Eropa,’’ ujar Suardana, perajin asal Singaraja yang memiliki toko seni di Sukawati.
Dijelaskannya, batok kelapa selama ini bisa diolah menjadi aneka kerajinan yang memiliki nilai dan ekonomi tinggi. Tempurung kelapa tersebut sejak lama telah dijadikan aneka kerajinan seni, yang berhasil memikat banyak hati konsumen, khususnya mancanegara. Perabotan rumah tangga seperti piring, tempat minum dan lain-lain banyak dibuat dari bahan tempurung kelapa.
Dengan bentuknya yang klasik dan unik, karena dibuat dari bahan alami, membuat konsumen tertarik memilikinya. Bukan saja dalam bentuk perabotan rumah tangga, tetapi juga dalam bentuk aksesoris seperti ikat pinggang, kalung dan lain-lain.
‘’Tempurung kelapa bisa dijadikan aneka barang seni yang menarik, sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi,’’ tutur Suardana, sambil menambahkan, bahan baku batok kelapa tersebut sejatinya gampang diperoleh. Hanya saja, pemanfaatan batok kelapa juga cukup banyak seperti untuk arang. Akhirnya pasokan bahan baku juga kini sudah mulai terbatas jumlahnya.
Kadir, perajin aksesoris batok kelapa lainnya juga mengakui, ikat pinggang dari batok kelapa selama ini laris di pasar mancanegara. Ia mengirim 6.000 pcs ikat pinggang untuk mitra bisnisnya di luar negeri seperti Thailand.
Belum lagi untuk pasar dalam negeri,’’ ujar Wahyudi, perajin asal Grokgak Singaraja yang membuka toko seni di Sukawati. Dikemukakan, selain dibuat dari bahan alami, ikat pinggang batok kelapa juga memiliki nilai seni yang tinggi. Mengingat, proses pembuatannya memiliki ketelitian dan kerumitan yang tinggi pula.
Terutama yang ada nilai seni Bali-nya seperti ukiran. Karena dengan adanya ukiran ciri khas Bali-nya tampak jelas, sekaligus merangsang pembeli.
‘’Terlebih lagi, setelah melihat orang yang memakainya, tentu menjadi lebih bertambah cantik,’’ terang Wahyudi sambil menambahkan, beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Belanda dan Itali kini sudah menjadi pelanggan tetapnya untuk aneka aksesori dari batok kelapa.
Sementara untuk permintaan secara cangkingan, minimal laku 30 pcs tiap hari, yang sebagian besar pembelinya wisatawan domestik maupun mancanegara.
‘’Pelajar dan mahasiswi juga banyak memakai ikat pinggang dari batok kelapa, karena memang bagus dan indah dipandang mata,’’ ujar Sunarti, istri Wahyudi.
Dijelaskan, selain aksesori berupa ikat pinggang, kalung dan jepit rambut yang juga dibuat dari bahan yang sama juga disukai konsumen. Namun, permintaannya tidak sebanyak aksesori ikat pinggang.
Harga ikat pinggang mulai Rp 45.000 sampai Rp 65.000 per pcs. Sedangkan yang berupa cincin dan kalung harganya bervariasi mulai Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per pcs
Sumber  & gambar : Bisnis Bali online dan indonetwork.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar